HIV dengan konsep Immunotheraphy

HIV DENGAN KONSEP IMMUNOTHERAPHY

Pentingnya Sistem Imun Bagi Kesehatan Tubuh Kita


Sistem imun seharusnya memberikan perlindungan terhadap tubuh dari pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada tubuh kita, melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri & virus, serta menghancurkan sel kanker & zat asing lain dalam tubuh.

 Apa yang Terjadi Jika Sistem Imun Tidak Berfungsi sebagaimana Mestinya?
Jika Sistem imun kita tidak bekerja sebagaimana seharusnya maka bisa muncul penyakit sebagai berikut:

 Kanker & Infeksi
Alergi & Autoimun


Sistem Imun telah diciptakan untuk menyembuhkan sendiri penyakit-penyakit yang ada didalam tubuh. Oleh Karena itu Perawatan Kesehatan Terbaik adalah Perawatan Sistem Imun.



  Faktor2 Penyebab Sistem Imun Melemah & Naif (Bodoh), yaitu:
Stress/ Depresi
Pestisida
Makanan siap saji,
Perasa/Pewarna/Pengawet,
Polusi,
Spray Aerosol / Alkohol / Kimia
Obat / Steroid / Antibiotik
Radiasi / X-Ray / Mikrowave
Debu / Hama / Serangga

Virus / Bakteria / Parasit / Jamur
Kurang Tidur

Sistem Imum yang Kuat dan Seimbang adalah Kunci Hidup Sehat. Sistem Imum Yang Lemah dan Tidak Seimbang adalah Sumber Berbagai Penyakit. Sebuah produk nutrisi revolusioner dari

4Life Research USA disebut TRANSFER FACTOR dapat Menguatkan & Mencerdaskan Sistem Imun untuk Secara Langsung Menjaga Kesehatan dan Membantu Mempercepat Proses Penyembuhan.

4Life Transfer Factor merupakan suplemen yang berperan sebagai modulator sistem imun yang mampu mencegah & memperbaiki proses peradangan (inflamasi), berfungsi sebagai  antioksidan, mampu meningkatkan aktifitas “Natural Killer” sel (natural killer adalah sel pembunuh alami yang bertugas membunuh sel-sel kanker & sel-sel yang terinfeksi penyakit) & membantu tubuh membuang zat-zat racun (toksin). Transfer factor adalah produk revolusi nutrisi yang mengandung gizi terlengkap dan terbaik dalam membantu sistem imun 



UNTUK KONSULTASI DAN TESTIMONI PASIEN ODHA YANG SUDAH RUTIN KONSUMSI 4LIFE BISA HUBUNGI LEWAT EMAIL KAMI ATAU WA BISNIS 087788995330 ketik info HIV


 A. Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)


1. Pengertian ODHA
ODHA adalah singkatan dari Orang Dengan HIV/AIDS, sebagai pengganti
istilah penderita yang mengarah pada pengertian bahwa orang tersebut sudah secara positif didiagnosa terinfeksi HIV/AIDS. Di Indonesia, istilah ODHA telah disepakati sebagai istilah untuk mengartikan orang yang terinfeksi positif mengidap HIV/AIDS (Nurbani, 2013).


2. Pengertian HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang dapat
menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih` yang bernama sel CD4 (Cluster of Differentiation 4) sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini termasuk RNA virus genus Lentivirus golongan Retrovirus famili Retroviridae. Spesies HIV-1 dan HIV-2 merupakan penyebab infeksi HIV pada manusia (Soedarto, 2009). Semakin lama jumlah virus semakin banyak sehingga sistem kekebalan tubuh tidak lagi mampu melawan penyakit yang masuk. Virus HIV menyerang sel CD4 (Cluster of Differentiation 4) dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Replikasi virus yang terus menerus mengakibatkan semakin berat kerusakan sistem kekebalan tubuh dan
semakin rentan terhadap infeksi oportunistik (IO) sehingga akan berakhir dengan kematian (Novianti dkk, 2014).

AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) atau kumpulan berbagai
gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh individu akibat HIV. Ketika
individu sudah tidak lagi memiliki sistem kekebalan tubuh maka semua penyakit dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh. Karena sistem kekebalan tubuhnya menjadi sangat lemah, penyakit yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi sangat berbahaya (Hasdianah dkk, 2014). Menurut WHO 2014, AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV, dimana perjalanan HIV akan berlanjut menjadi AIDS membutuhkan waktu sekitar 10 sampai 15 tahun (Novianti dkk, 2014).

 

3. Etiologi
AIDS disebabkan oleh HIV, suatu retro-virus pada manusia yang termasuk
dalam keluarga lentivirus (termasuk prila virus imunodefisiensi pada kucing, virus imunodefisiensi pada kera, visna virus pada domba, dan virus anemia infeksiosa pada kuda). Dua bentuk HIV yang berbeda secara genetik, tetapi berhubungan secara antigen, yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 merupakan tipe yang lebih sering dihubungkan dengan AIDS di Amerika Serikat, Eropa, dan Afrika Tengah, sedangkan HIV-2 menyebabkan penyakit yang serupa, terutama di Afrika Barat (Robbins, 2007).

 

HIV yang dahulu disebut virus limfotropik sel T manusia tipe III (HTLV-
III) atau virus limfadenopati (LAV), adalah suatu retrovirus manusia sitopatik dari famili lentivirus. Retrovirus mengubah asam ribonukleatnya (RNA) menjadi deoksiribonukleat (DNA) setelah masuk kedalam sel penjamu. HIV-1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik, dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS di seluruh dunia. Genom HIV mengode sembilan protein yang esensial untuk setiap aspek siklus hidup virus. Dari segi struktur genomik, virus-virus memiliki
perbedaan yaitu bahwa protein HIV-1, Vpu yang membantu pelepasan virus, tampaknya diganti oleh protein Vpx pada HIV-2. Vpx meningkatkan infektivitas (daya tular) dan mungkin merupakan duplikasi dari protein lain Vpr. Vpr diperkirakan meningkatkan transkripsi virus. HIV-2 menyebabkan penyakit klinis tetapi tampaknya kurang patogenik dibandingkan dengan HIV-1 (Price and Wilson, 2005).


 


Keduanya merupakan retrovirus yang menyerang sel limfosit T CD4
(Cluster of Differentiaton 4) yang memiliki reseptor dengan afinitas yang tinggi untuk HIV. Hasil dari perubahan ini akan diintegrasikan ke dalam informasi genetik sel limfosit yang diserang kemudian memanfaatkan mekanisme sel limfosit untuk menggandakan dirinya menjadi virus baru yang memiliki ciri seperti HIV. Sistem kekebalan tubuh manusia yang diserang adalah limfosit T helper yang memiliki reseptor CD4 (Cluster of Differentiaton 4). Virus ini mempunyai afinitas terhadap molekul yang ada di permukaan CD4 (Cluster of Differentiaton 4). Limfosit CD4+ (Cluster of Differentiaton 4) adalah sebagai koordinator dari fungsi imunologis manusia sehingga kehilangan fungsi tersebut dapat menyebabkan gangguan respon imun yang progresif (Sudoyo dkk, 2009).


4. Perjalanan penyakit HIV/AIDS

Perjalanan penyakit HIV/AIDS dibagi dalam tahap - tahap berdasarkan
keadaan klinis dan jumlah CD4 (Cluster of Differentiaton). Menurut WHO (2006)
 

tahapan infeksi HIV/AIDS terbagi menjadi 4 stadium klinis :
 

a. Stadium klinis I
Infeksi dimulai dengan masuknya HIV dan diikiuti terjadinya perubahan
serologi ketika antibodi terhadap virus tersebut berubah dari negatif menjadi
positif. Rentang waktu sejak HIV masuk ke dalam tubuh sampai tes antibodi terhadap HIV menjadi positif disebut dengan istilah window period. Lama window period antara satu sampai tiga bulan, bahkan ada yang dapat berlangsung sampai enam bulan. Keluhan yang sering muncul pada stadium ini seperti sakit flu biasa dan bila diberi obat akan berkurang atau sembuh, kadang terdapat Limfadenopati Generalisata Persisten (LGP) yakni pembesaran kelenjar getah bening di beberapa tempat yang menetap. Pada stadium I ini, Hasil tes negatif, namun orang yang sudah terinfeksi ini sudah dapat menularkan pada orang lain. serta CD4-nya 500 1000.

b. Stadium klinis II
Waktunya antara 3 bulan s/d 5-10 tahun. Stadium ini bersifat asimptomatik
berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat HIV tetapi tubuh tidak menunjukkan gejalan-gejala. Cairan tubuh pasien HIV/AIDS yang tampak sehat ini sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain. Hasil tes positif serta CD4-nya 500 750.


c. Stadium klinis III (pra AIDS)

Pada Stadium ini sudah tampak gejala tetapi masih umum seperti penyakit
lainnya. Pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata (Persisten
Generalized Lymphadenopathy), tidak hanya muncul pada satu tempat saja, dan berlangsung lebih satu bulan. Keluhan yang sering muncul seperti sariawan, kandidiasis mulut persisten, selera makan hilang, demam berkepanjangan > 1 bulan, diare kronis > 1 bulan, kehilangan BB > 10%, timbul bercak-bercak merah di bawah kulit, TB paru, anemia yang tidak diketahui sebabnya, trombositopenia,
limfisitopenia, pneumobakterial serta CD4-nya 100 500

penderita HIV/AIDS, berpelukan dipipi, gigitan nyamuk, maupun berhubungan
sosial dengan penderita HIV/AIDS.


6. Respon psikologis pada ODHA
Menurut (Nursalam and Kurniawati, 2007) pengalaman mengalami suatu
penyakit salah satunya penyakit kronis seperti HIV/AIDS akan mengakibatkan berbagai perasaan dan reaksi stres, kecemasan, frustasi, penyangkalan, kemarahan, berduka, rasa malu, dan ketidakpastian dengan adaptasi terhadap penyakit HIV/AIDS. Adapun tahapan respon psikologis orang dengan HIV/AIDS menurut Grame Stewart, 1997 dalam buku Nursalam (2007) adalah seperti yang dapat dilihat dalam tabel 1.

 
 

Tabel 1
Reaksi Psikologi Orang Dengan HIV/AIDS
Reaksi Proses Psikologis Hal- hal yang Biasa
Dijumpai
1 2 3
Shock (kaget, goncangan
batin)
Merasa bersalah, marah,
tidak berdaya
Rasa takut, hilang akal,
frustrasi, rasa sedih, susah,
acting out
Mengucilkan diri Merasa cacat dan tidak
berguna, menutup diri
Khawatir menginfeksi
orang lain, murung
Membuka status secara
terbatas
Ingin tahu reaksi orang lain,
pengalihan stres, ingin
dicintai
Penolakan,stres, konfrontasi
Mencari orang lain yang
HIV positif
Berbagi rasa, pengenalan,
kepercayaan, penguatan,
dukungan social
Ketergantungan, campur
tangan, tidak percaya pada
pemegang rahasia dirinya


1 2 3
Status khusus Perubahan keterasingan
menjadi manfaat khusus,
perbedaan menjadi hal yang
istmewa, dibutuhkan oleh
yang lainnya
Ketergantungan, dikotomi
kita dan mereka (sema
orang dilihat sebagai
terinfeksi HIV dan direspon
seperti itu), over
identification
Perilaku mementingkan
orang lain
Komitmen dan kesatuan
kelompok, kepuasan
memberi dan berbagi,
perasaan sebagi kelompok
Pemadaman, reaksi dan
kompensasi yang
berlebihan
Penerimaan Integrasi status positif HIV
dengan identitas diri,
keseimbangan antara
kepentingan orang lain
dengan diri sendiri, bisa
menyebutkan kondisi
seseorang
Apatis, sulit berubah
Sumber : (Nursalam dan Kuriawati. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS.
2007)

 
7. Masalah yang dialami ODHA
Menurut Nurbani (2013) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa
permasalahan yang dialami oleh ODHA meliputi permasalahan psikologis,
permasalahan sosial, maupun permasalahan biologis.
a. Permasalahan Psikologis
Permasalahan psikologis yang timbul seperti depresi, ansietas, gangguan
kognitif, gangguan psikosis, hingga gangguan kepribadian, merasa dirinya tidak
berguna, takut, sedih, tidak ada harapan, dan merasa putus asa.16
b. Permasalahan Sosial
Permasalahan sosial yang sering timbul pada ODHA adalah seperti bentuk
diskriminasi, stigmatisasi, perceraian, pemberhentian dari pekerjaan, beban
finansial yang harus ditanggung oleh ODHA serta dijauhi oleh kerabat dekat.
c. Permasalahan Biologis
Permasalah Biologis yang dialami ODHA adalah berupa infeksi
oprtunistik gejala simptomatik yang berhubungan dengan AIDS , efek samping
dari obat ARV, serta sindrom pemulihan kekebalan tubuh.
B. Depresi
1. Pengertian depresi
Depresi merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan trias depresi yaitu
kesedihan berkepanjangan, motivasi menurun, dan kurang tenaga untuk
melakukan kegiatan sehari-hari (Keliat, dkk 2011). Menurut WHO, depresi juga
merupakan gangguan mental yang ditandai dengan munculnya gejala penurunan
mood, kehilangan minat terhadap sesuatu, perasaan bersalah, gangguan tidur atau
nafsu makan, kehilangan energi, dan penurunan konsentrasi (Public and Concern,
2012). Depresi dapat diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan alam perasaan
yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat,
perasaan tidak berharga, merasa kosong, putus harapan, selalu merasa dirinya
gagal, tidak berminat pada ADL sampai ada ide bunuh diri (Yosep, 2014).
Dr.Jonatan Trisna (dalam N. L. Lubis, 2016) menyimpulkan bahwa
depresi merupakan suatu perasaan sendu atau sedih yang biasanya disertai dengan
diperlambatnya gerak dan fungsi tubuh. Mulai dari perasaan murung sedikit
sampai pada keadaan tak berdaya. Depresi merupakan gangguan perasaan (afek)17
yang ditandai dengan afek disforik (kehilangan kegembiraan/gairah) disertai
dengan gejala-gejala lain, seperti gangguan tidur dan menurunnya selera makan.
2. Faktor Risiko Depresi
Menurut Lubis (2016) secara sederhana digambarkan bahwa ada beberapa
faktor risiko depresi sebagai berikut:
a. Faktor Fisiologis
1) Faktor Genetik
Adanya riwayat keturunan penderita depresi berat di dalam keluarga akan
memperbesar risiko seseorang menderita gangguan depresi.
2) Susunan Kimia Otak dan Tubuh
Ketidakseimbangan bahan kimia di otak dan tubuh dapat mengendalikan
emosi kita. Pada pasien depresi ditemukan adanya perubahan kadar
neurotransmitter di otaknya. Perubahan bahan kimia sering kali disebabkan oleh
kebiasaan mengonsumsi alcohol, obat-obatan dan merokok.
3) Faktor Usia
Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu
remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Namun sekarang ini usia
rata-rata penderita depresi semakin menurun yang menunjukkan bahwa remaja
dan anak-anak semakin banyak terkena depresi.
4) Jenis Kelamin
Wanita dua kali lebih sering terdiagnosis menderita depresi daripada pria.
Bukan berarti wanita lebih mudah terserang depresi karena wanita sering
mengaku adanya depresi daripada pria dan dokter lebih dapat mengenali depresi
pada wanita.18
5) Gaya Hidup
Gaya hidup yang tidak sehat dapat juga mengakibatkan depresi. Tubuh
yang tidak sehat biasanya dipengaruhi oleh faktor makan yang tidak baik, tubuh
kurang tidur, kurang olahraga dan kurang nutrisi dapat mengakibatkan depresi.
Gaya hidup yang tidak sehat juga dapat memicu timbulnya penyakit seperti
diabetes melitus yang mengakibatkan depresi.
6) Obat-obatan terlarang
Sistem saraf di otak akan dipengaruhi fungsinya ketika mengonsumsi obat-
obatan terlarang dan menimbulkan ketergantungan.
7) Kurangnya cahaya matahari
Penderita seasonal affective disorder akan merasa lebih baik saat tubuhnya
terkena cahaya matahari. Ketika berada dibawah sinar matahari seketika mereka
merasa nyaman. Namun saat musim dingin tiba mereka merasa depresi.
b. Faktor Psikologis
Faktor psikologis yang dapat memicu seseorang terkena depresi meliputi:
1) Kepribadian
Aspek kepribadian sangat mempengaruhi derajat depresi yang dialami.
Konsep diri, pola pikir, penyesuaian diri dan kepribadian semua hal tersebut
mempengaruhi derajat depresi.
2) Pola Pikir
Seseorang yang memiliki pola pikir yang cenderung negatif akan rentan
terkena depresi.19
3) Harga Diri
Harga diri rendah akan mempengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Ketika seseorang merasa harga dirinya rendah maka akan menjadi stress
kemudian depresi.
4) Stress
Stress berat dapat mengakibatkan depresi. Reaksi stress yang
berkepanjangan akan berdampak besar terhadap kondisi psikologis seseorang.
5) Lingkungan Keluarga
Seseorang yang akan mengalami depresi diakibatkan oleh kehilangan
orang tua ketika masih anak-anak, kurangnya kasih sayang dari orang tua ketika
masih kecil, dan penyiksaan fisik dan seksual .
6) Penyakit jangka panjang
Penyakit yang diderita dalam jangka waktu yang panjang dapat
mengakibatkan depresi karena pasien akan merasa tidak nyaman, ketergantungan,
ketidakamanan dan perasaan tidak berguna.
3. Ciri-ciri umum depresi
Menurut Nevid (2005) ciri-ciri umum dari depresi adalah :
a. Perubahan pada kondisi emosional
Perubahan pada kondisi mood (periode terus menerus dari perasaan
terpuruk, depresi, sedih atau muram). Penuh dengan air mata atau menangis serta
meningkatnya iritabilitas (mudah tersinggung), kegelisahan atau kehilangan
kesadaran.20
b. Perubahan dalam motivasi
Perasaan tidak termotivasi atau memiliki kesulitan untuk memulai
(kegiatan) di pagi hari atau bahkan sulit bangun dari tempat tidur. Menurunya
tingkat partisipasi sosial atau minat pada aktivitas sosial. Kehilangan kenikmatan
atau minat dalam aktivitas yang menyenangkan. Menurunya minat pada seks serta
gagal untuk berespon pada pujian atau reward.
c. Perubahan dalam fungsi dan perilaku motorik
Gejala-gejala motorik yang dominan dan penting dalam depresi adalah
retardasi motor yakni tingkah laku motorik yang berkurang atau lambat, bergerak
atau berbicara dengan lebih perlahan dari biasanya. Perubahan dalam kebiasaan
tidur (tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, bangun lebih awal dari biasanya dan
merasa kesulitan untuk tidur kembali). Perubahan dalam selera makan (makan
terlalu banyak atau terlalu sedikit). Perubahan dalam berat badan (bertambah atau
kehilangan berat badan). Beraktivitas kurang efektif atau energik dari pada
biasanya, orang-orang yang menderita depresi sering duduk dengan sikap yang
terkulai dan tatapan yang kosong tanpa ekspresi.
d. Perubahan kognitif
Kesulitan berkonsentrasi atau berpikir jernih. Berpikir negatif mengenai
diri sendiri dan masa depan. Perasaan bersalah atau menyesal mengenai kesalahan
dimasa lalu. Kurangnya self-esteem atau merasa tidak adekuat. Berpikir kematian
atau bunuh diri.
4. Alat ukur depresi
Beck Depression Inventory (BDI) merupakan instrumen untuk mengukur
derajat depresi dari Dr. Aaron T. Beck. Skala BDI telah dibuktikan memiliki 21 validitas dan reliabilitas cukup tinggi untuk melakukan pengukuran depresi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran depresi dengan menggunakan skala
BDI akan diperoleh hasil yang valid dan reliable. Pada tahun 1996 BDI direvisi
dengan tujuan untuk menjadi lebih konsisten dengan kriteria DSM-IV. Beck et all
(1996) memberi nama hasil revisi tersebut dengan BDI-II. Alat ukur ini dibuat
untuk digunakan pada individu usia 13 tahun keatas. Contoh perevisian BDI-II
antara lain adalah subyek penelitian diminta untuk merespon setiap pernyataan
berdasarkan periode waktu dua minggubukan satu minggu seperti jangka waktu
dalam BDI. Alasan perevisianini adalah agar sesuai dengan kriteria depresi pada
DSM-IV yangmenunjukkan bahwa untuk mendiagnosis depresi, sedikitnya gejala
depresi telah ada selama 2 minggu berturut-turut (American Psychology
Association, 2000).
Pada BDI subyek penelitian diminta untuk merespon pertanyaan
berdasarkan perasaannya selama satu minggu terakhir, makapada BDI-II subyek
penelitian diminta untuk merespon pertanyaan berdasarkan perasaannya selama
dua minggu terakhir. BDI-II terdiri dari 21 itemuntuk menaksir intensitas depresi
pada orang yang sehat maupun sakit secara fisik. Setiap item terdiri dari empat
pernyataan yang mengindikasikan gejala depresi tertentu. Gejala-gejala tersebut yaitumengenai kesedihan, pesimisme, kegagalan masa lalu, kehilangan kesenangan, perasaan bersalah, perasaan hukuman, tidak menyukai diri, kegawatan diri, pikiran atau keinginan untuk bunuh diri, menangis, agitasi,
kehilangan minat, keraguan, tidak berharga, kehilangan energi, perubahan pola tidur, lekas marah, perubahan nafsu makan, kesulitan konsentrasi, kelelahan dan kehilangan ketertarikan untuk melakukan hubungan seks (Tresniasari dkk, 2015).

 

 

Komentar